BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra yang berda di Indonesia. Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang di buat di wilayah kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk pada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan bahasa Melayu (dimana Bahasa Indonesia adalah turunannya).
Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain. Dalam periodisasi sastra Indonesia di bagi menjadi dua bagian besar, yaitu lisan dan tulisan. Secara urutan waktu terbagi atas angkatan Pujangga Lama, angakatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950-1960-an, angkatan 1966-1970-an, angkatan 1980-1990-an, angkatan Reformasi, angkatan 2000-an.
Adapun pembagian periodisasi sastra menurut para ahli yaitu Buyung Saleh, HB. Jassin, Nugroho Notosusanto, dan Ajip Rosidi.Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa, misalnya sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra Jawa dan sejarah sastra Inggris.
Dalam jangka waktu yang relatif panjang tercatat munculnya secara besar jumlah persoalan sastra yang erat kaitannya dengan perubahan zaman dan gejolak sosial politik yang secara teoritis dipercaya besar pengaruhnya terhadap warna kehidupan sastra. Masalah itu biasanya terkait dengan teori periodisasi atau pembabakan waktu sejarah sastra.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana mana masa mula sejarah sastra di indonesia ?
2. Bagaimana periodesasi sejarah sastra indonesia dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam periodesasi sejarah sastra indonesia ?
C. TUJUAN PENULISAN
Untuk mendiskripsikan periodisasi sejarah sastra dan untuk mengetahui tokoh-tokoh yang terlibat dalam periodisasi sejarah sastra Indonesia.
D. MANFAAT
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini kita dapat memperoleh manfaat berupa pengetahuan tentang karya sastra serta kita mengetahui sejarah sastra Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. MASA MULA SASTRA INDONESIA
· Berbagai Pendapat tentang Masa Mula Sastra Indonesia
Bahasa adalah unsur utama sastra. Sastra yang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia disebut sastra Indonesia. Di Indonesia, di samping sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia ada juga yang ditulis dalam bahasa daerah dan bahasa asing. Sastra yang aslinya ditulis dalam bahasa daerah disebut sastra daerah; dan sastra yang aslinya ditulis dalam bahasa asing disebut sastra asing. Jadi, untuk mengenal jenis sebuah sastra kita lihat jenis bahasa yang digunakannya.
Di samping ketiga jenis sastra tersebut di atas, ada juga disebut sastra terjemahan, yaitu sastra yang dialihbahasakan dari suatu bahasa ke bahasa lain tanpa mengubah bentuk dan isi sastra yang bersangkutan.
Contohnya: sastra daerah atau sastra asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ada juga disebut sastra saduran, yaitu sastra (cerita) yang disusun kembali secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain.
Dalam buku Perkembangan Puisi Indonesia dalam Masa Duapuluhan (Fachruddin Ambo Enre, 1963: 11) tercantum:
1. Sastra Indonesia baru ada sesudah Proklamasi Kemerdekaaan 1945.
2. Sastra Indonesia baru ada sesudah Sumpah
3. Sastra Indonesia sudah mulai pada awal tahun duapuluhan.
Pendapat pertama di atas dikemukakan oleh Slametmuljana. Ia menyangkut-pautkan nama negara Indonesia dengan nama sastra Indonesia. Sastra sebelum proklamasi kemerdekaan 1945 semuanya masih digolongkan sastra daerah. Pendapat kedua di atas dikemukakan oleh Umar Junus. Ia menyangkut-pautkan nama Sumpah Pemuda dengan nama sastra Indonesia. Ia beranggapan bahwa sastra Indonesia baru ada sesudah Sumpah Pemuda 1928. Tidak ada sastra tanpa bahasa, ini benar. Jadi, sastra Indonesia baru ada sesudah ada bahasa Indonesia.
Menurut pendapat A. S. Broto (1980: 19) bahwa dalam kongres pemuda yang kedua, 28 Oktober 1928 dikumandangkan Sumpah Pemuda yang sangat terkenal itu, dan nama bahasa Melayu diganti dengan bahasa Indonesia. Jadi, sebelum Sumpah Pemuda 1928 sudah ada bahasa yang dipergunakan sebagai unsur sastra, yang akan diresmikan namanya menjadi bahasa nasional Indonesia. Sastra yang dimaksud adalah sastra Indonesia.
Pendapat ketiga di atas dikemukakan oleh Fachruddin Ambo Enre (1963: 19). Ia berpendapat bahwa ditinjau dari sudut bentuk, bahasa, dan isinya, kesusastraan yang muncul pada masa-masa duapuluhan ini jelas menunjukkan adanya pengaruh kesusastraan Barat; isinya mencerminkan keadaan masyarakat zamannya, masyarakat Indonesia yang sedang mengalami pertumbuhan; gaya bahasa dan perbendaharaan kata-katanya tidak lagi serupa dengan bahasa di zaman Abdullah bi Abdulkadir Munsji. Jadi, kenyataan cukup memberikan hak kepada kita untuk menetapkan munculnya suatu zaman baru, zaman kesusastraan Indonesia.
Sehubungan dengan pendapat ketiga pengamat sastra di atas tentang masa mula sastra Indonesia, H. B. Jassin mengatakan bahwa Angkatan 20-an lahir dalam zaman Balai Pustaka (1908) dengan terbitnya roman Siti Nurbaya (1922). Bahkan sebelum terbitnya roman Siti Nurbaya, Pendahuluan 25 telah terbit roman Azab dan Sengsara dalam tahun 1920 yang dianggap roman pertama Indonesia.
· Dokumentasi Kesustraan Indonesia Modern
Dalam buku Pameran Dokumentasi Kesusastraan Indonesia tercantum perihal dokumentasi kesusastraan Indonesia modern milik H. B. Jassin. Dokumen ini dipamerkan oleh Direktorat Bahasa dan Kesusastraan bersama dengan Dewan Kesenian Jakarta; dengan bantuan Ikatan Penerbit Indonesia; dalam tahun 1968. Pameran dokumentasi kesusastraan ini sebenarnya merupakan percobaan ketiga bagi Direktorat Bahasa dan Kesusastraan. Yang pertama diadakan pada bulan April 1967, dalam rangka memperingati meninggalnya penyair Chairil Anwar. Pameran yang ketiga kalinya ini diadakan dalam rangka memperingati 40 tahun Sumpah Pemuda serta peresmian gedung Pusat Kesenian Jakarta.
Maksud pameran ini ialah untuk memperlihatkan perkembangan kesusastraan Indonesia dengan jalan memamerkan buku-buku, surat-surat, tulisan-tulisan dalam surat kabar dan majalah, prasaran-prasaran stensilan, pamflet-pamflet, foto-foto dan lain-lain dokumen penting yang bernilai sejarah, bukan saja sejarah kesusastraan tapi juga sejarah politik dan kemasyarakatan, sebagai latarbelakang pertumbuhan kesusastraan. Tidak dapat disangkal bahwa Balai Pustaka yang didirikan pada tahun 1908 mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan kesusastraan Indonesia. Disinilah lahirnja Angkatan 20-an dengan terbitnya roman Siti Nurbaja yang dianggap sebagai roman pertama yang memenuhi syarat kesusastraan yang baik dan merupakan roman modern klasik kita yang pertama. Di sini pula terbitnja roman-roman besar seperti Hulubalang Radja, Salah Asuhan, Lajar Terkembang, Atheis, Tambera, Mereka Jang Dilumpuhkan dan lain-lain.
Pengarang-pengarang terkemuka Pudjangga Baru dan Angkatan 45 ada yang pernah bekerja di Balai Pustaka untuk beberapa waktu, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, H. B. Jassin, Idrus, Achdiat K. Mihardja, Utuy Tatang Sontani, Pramoedya Ananta Toer dan lain-lain. Jelas merupakan satu pembaharuan periode Pujangga Baru dengan majalahnya yang bernama serupa, terbit tahun 1933, bukan saja di lapangan kesusastraan tetapi juga di lapangan pemikiran kebudayaan pada umumnya. Munculnya Pudjangga Baru tidak berlangsung diam-diam, tapi disertai polemik mengenai pembaharuan yang dibawanya dalam bahasa, kesustraan dan konsepsi kebudayaan. Polemik itu berlangsung antara tokoh-tokoh Pudjangga Baru dan barisan guru-guru kolot dan budayawan-budayawan yang berpijak pada tradisi lama. Pemerintah jepang berusaha membunuh semangat pudjangga baru, sebaliknya justru melahirjan Chairil Anwar yang lebih revolusioner dalam sikap dan tanggapan hidupnya dan munculah angkatan 45 sesudah Indonesia merdeka.
Dalam tahun 1950 Lekra didirikan sebagai organisasi kebudayaan yang juga bergerak di lapangan kesusastraan. Di lapangan kesenian ia membawa realisme sosialis yang kemudian dipertegas dengan semboyan "Politik adalah Panglima". Karena konsepsinya ini Lekra berhadapan dengan seniman merdeka yang berkumpul dalam Gelanggang yang mementingkan nilai dan membawa konsepsi humanisme universal. Tokoh-tokoh Lekra ialah A. S. Dharta alias Klara Akustia, Jubaar Ajub, Bakri Siregar dan kemudian juga Rivai Apin dan Pramoedya Ananta Toer. Pertarungan antara kedua golongan ini meningkat dari tahun ke tahun sampai tercetusnya Manifes Kebudayaan pada tahun 1963.
Hamka yang berpengaruh besar di kalangan Islam dan pernah mengecam cara-cara komunis yang tidak fair, diserang dan diciptakan issue plagiat Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Ia difitnah hendak meruntuhkan pemerintahan Soekarno hingga dijebloskan dalam tahanan. Lalu menyusul issue penolakan hadiah sastra tahun 1962 dan pengganyangan film Amerika. Sadar akan bahaya yang mengancam kebudayaan dan sendi-sendi negara yang berdasarkan Pancasila, maka para cendekiawan, pengarang , dan seniman mencetuskan Manifes Kebudayaan dan menghimpun para pengarang dan kebudayaan dari seluruh tanah air dalam suatu konperensi yang disebut Komperensi Karyawan Pengarang Indonesia, disingkat KKPI. Ini adalah satu perlawanan total dan frontal dari golongan kebudayaan dan dalam usahanya untuk mematahkan perlawanan ini pihak Lekra/PKI berhasil melalui menteri kiri P. P. & K. Profesor Prijono mendesak Presiden Soekarno untuk melarang Manifes Kebudayaan dengan dalih membahayakan jalannya revolusi.
B. PERIODESASI SEJARAH SASTRA INDONESIA
· Angkatan Balai Pustaka
Di ikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu. Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka :
Merari siregar
o Azab dan Sengsara (1920)
o Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
o Cinta dan Hawa Nafsu
Marah Roesli
o Siti Nurbaya(1920)
o La Hami(1924)
· PUJANGGA LAMA
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikaian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri. Karya sastra pujangga lama :Sejarah, Sejarah Melayu (Malay Annals), Hikayato, Hikayat Aceh, Hikayat Amir Hamzah, Syair, Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan Syair Raja Mambang Jauhari.
· PUJANGGA BARU
Pujangga Baru adalah nama sebuah majalah. Majalah ini dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana sejak tahun 1933. Angkatan Pujangga Baru disebut juga Angkatan 33.
Prof. Dr. Teeuw mengatakan bahwa majalah itu yang pada mulanya bernama: ‘Majalah bulanan kesusastraan dan bahasa serta seni dan kebudayaan’, kemudian (pada permulaan tahun ke-3) menjadi: ‘pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni kebudayaan dan sosial masyarakat umum’, dan kemudian lagi tersebut pada kulitnya: ‘pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia’. Perinciannya yang terakhir ini sungguh-sungguh berupa agak tegas dan segera pula menimbulkan sebab untuk pertentangan.
Dalam tahun keenam misalnya Alisjahbana harus mempertahankan pendapatnya seperti dinyatakan oleh kata dinamis itu, terhadap seorang yang tak kurang dan tak lain daripada Haji Agus Salim sendiri dan antara pujangga-pujangga baru sendiri timbul pertentangan hebat tentang tujuan yang akan ditempuh oleh kebudayaan kesatuan kebangsaan itu.
Selanjutnya Prof. Dr. A. Teeuw mengatakan: tetapi mujurlah, bahwa cita-cita niskala untuk bekerja dalam kalangan Kesusastraan dan Kebudayaan ternyata lebih kuat membentuk pertalian daripada menimbulkan perceraian dalam perbedaan-perbedaan paham tentang cara melaksanakan cita-cita itu. Beberapa tokoh utama dalam zaman Pujangga Baru serta karangannya masing-masing, baik yang berbentuk prosa maupun yang berbentuk puisi.
· Mr. Sutan Takdir Alisjahbana
Dalam dunia keilmuan, kebudayaan bahasa dan filsafat, ia banyak mendapat perhatian dari luar negeri. Berkali-kali ia menerima undangan, baik dari Eropa maupun dari Amerika. Akan tetapi sebaliknya, dari pihak cendekiawan bangsanya sendiri, ia banyak mendapat tantangan, bahkan seakan-akan ia disisihkan oleh sebagian bangsanya karena pendiriannya yang sangat mengagumi Dunia Barat. S. Takdir sangat mengecam pemujaan suatu bangunan seperti Borobudur yang dalam pandangannya hanya dapat dilihat dalam bayangan penderitaan yang tak berkeputusan dan dalam bayangan aniaya sosial. (Teeuw, 1959 : 103)
Prof. Dr. A. Teeuw berpendirian bahwa ia dalam hal ini tak perlu memilih kawan dalam pertengkaran itu. Pastilah bahwa S. Takdir sekali-sekali ada juga berbuat melebih-lebihi dan menuju Dunia Barat dengan pandangan dari satu sudut saja. Akan tetapi, pasti pula ada faedah dan manfaatnya suara demikian diperdengarkan sebab di dalam suara itu termasuk juga kebenaran yang penting artinya. Selanjutnya S. Takdir mengatakan bahwa para seniman muda yang sudah pada tempatnya merasakan dirinya mempunyai tugas, tetapi yang seharusnya pula melaksanakan tugas itu dalam kehidupannya. Noblesse oblige (nama besar punya tanggung jawab pula). Mereka harus memelopori bangsanya; mereka harus memimpin bangsanya dalam perjuangannya untuk memperoleh kemerdekaan dan kehidupan. Namailah kesenian demikian itu kesenian bertujuan.
Karangannya:
1. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)
2. Dian yang Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
3. Anak Perawan di Sarang Penyamun (roman, 1932)
4. Layar Terkembang (roman, 1936)
5. Tebaran Mega (kumpulan Puisi)
6. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1949)
· Armin Pane
Armin Pane lahir di Muarasipongi (Tapanuli) 18 Agustus 1908. Ia tamatan AMS (Algemeene Middelbare School=Sekolah Menengah Atas) di Solo. Dalam tahun 1936, ia bekerja pada Balai Pustaka. Salah seorang pendiri dan pemimpin Pujangga Baru. Semasa Jepang, menjadi kepala bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Jakarta.
Karangannya:
1. Belenggu (1939)
2. Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)
3. Jiwa Berjiwa (sajak, 1939)
4. Ratna (sandiwara, 1943)
5. Kisah Antara Manusia(1953)
6. Jinak-Jinak Merpati (1953)
7. Mencari Sendi Baru Tata Bahasa Indonesia (1950)
· J.E. Tatengkeng
Tatengkeng dilahirkan di Kalongan, Pulau Sangihe (Sulawesi Utara) pada 19 Oktober 1907. Sesuadah tamat HIS (Hollands Inlands School = Sekolah rakyat), kemudian ia melanjutkan pelajaran ke Kweekschool = Sekolah Guru Kristen di Bandung; sesudah itu pindah ke HKS (Horgeere Kweekschool = Sekolah Guru Atas) Kristen di Solo.
Dalam tahun 1933, ia menjadi guru HIS di Tahuna; kemudian dalam tahun 1940 diangkat menjadi kepala Schakelschool di Ulu Siau, kemudian pindah kembali ke HIS Tahuna sebagai kepala. Selanjutnya dalam tahun 1947, ia menjadi kepala Normaal School dan S.M (Sekolah Menengah) Tahuna.
Selanjutnya dalam tahun itu juga (1947), ketika terbentuk NIT (Negara Indonesia Timur) terpilih menjadi Menteri Muda Pengajaran; kemudian Perdana Menteri NIT; turut menghadiri Konferensi Meja Bundar di Negeri Belanda sebagai anggota seksi Kebudayaan.
Setelah terbentuk Negara Kesatuan, J.E Tatengkeng dalam tahun 1951 ditunjuk untuk mengepalai Perwakilan Jawatan Kebudayaan Kementerian P.P. dan K. di Makassar.
Prof. Dr. A. Teeuw mengatakan bahwa golongan Pujangga Baru dipengaruhi oleh penyair-penyair Belanda, yang biasanya dikatakan angkatan 1880, yaitu mereka yang telah mengadakan revolusi besar dalam kalangan kesusastraan Belanda. Akan tetapi hendaklah berhati-hati menyangkakan bahwa pengaruh Belanda itu terlalu amat besarnya dan lagi pula terlalu sekali nyatanya berlaku.
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa puisi Pujangga Baru banyak persamaannya dengan puisi Angkatan 1880, bukannya karena kutipan langsung atau karena tiruan , tetapi karena seolah-olah serupa sama-sama tumbuh dalam iklim yang sama pada tanah yang serupa.
Barangkali Tatengkenglah penyair di masa sebelum perang yang teramat dekat kepada angkatan 1880 Belanda itu; dan yang sungguh-sungguh merasakan pengaruh mereka pada dirinya.
Selanjutnya Teeuw mengatakan bahwa beberapa hal Tatengkeng memperoleh tempat yang istimewa dalam masanya, yaitu ia berasal dari Indonesia Timur dan beragama Kristen. Yang pertama menilai kecakapan menggunakan bahasa Indonesia; dan yang kedua ia beragama Kristen, sudah jelas menempatkan dalam suasana yang lain daripada tempat kebanyakan pembantu Pujangga Baru.
· H. A. M. K. Amrullah
Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Bapaknya bernama Doktor Haji Abdul Karim Amrullah, seorang ulama Islam yang terkenal di Sumatra; pembawa paham-paham pembaruan di Minangkabau. Hamka dilahirkan di Sungai Batang, Meninjau, Sumatera Barat pada tanggal 16 Februari 1908. Pendidikannya hanya sampai kelas II sekolah desa. Karena nakalnya dia dikeluarkan dari sekolah.
Dari pihak ibu, Hamka mewarisi darah seni; orang tua ibunya ahli pencak sejenis tari-tarian yang digemari di Minangkabau. Dari kakeknya itulah dia sering mendengar pantun-pantun lama.
Waktu kecilnya, Hamka sering di bawa kakeknya ke danau Maninjau, sebuah danau yang indah di Minangkabau. Pemandangan alam sekeliling danau itu sangat berkesan pada sanubarinya. Ketika usia enam tahun, dia di bawa ayahnya ke Padang Panjang. Setelah tujuh tahun dia dimasukkan ke sekolah desa dan malamnya belajar mengaji Qurán pada ayahnya sendiri sampai tamat. Dari tahun 1916 sampai tahun 1923, dia belajar agama pada sekolah Diniyah School dan Sumatra Thawabib di Padang Panjang. Gurunya pada waktu itu ialah Sjch Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdulhamid dan Zainuddin Lebay.
· ANGKATAN 45
Para sastrawan tidak sependapat tentang penamaan Angkatan 45. Ada yang suka, ada juga yang tidak suka dengan penamaan itu. H. B. Jassin mengatakan bahwa satu hal yang tidak aneh mengapa sebagian Angkatan 45 tidak suka Cap 45. Tahun itu ialah tahun proklamasi kemerdekaan yang harusnya membanggakan, tetapi tahun itu bertalian pula dengan kejadian-kejadian yang tidak semuanya menyenangkan hati, pembunuhan-pembunuhan (dari kedua belah pihak), culik-menculik, agitasi, korupsi, saling cakaran, pasis-pasisan. Revolusi dari sudut ini kita bisa lihat dalam novel Idrus Surabaya dan analisis Sjahrir dalam Perjuangan kita, suatu kritikan hebat terhadap pemuda dan pemimpin yang dilihat Sjahrir terpengaruh oleh Jepang dan melakukan cara-cara fasis dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan mengakui kelemahan-kelemahan ini, sebaliknya orang yang suka nama Angkatan 45, tetap melihat tahun itu sebagai tahun yang mulia dalam perjuangan kebangsaan Indonesia.
Tenaga kata-kata yang mengandung pikiran paling dalam dianggap kurang dari perjuangan dengan senjata, padahal bahasa hati tidak kurang meresapkan arti kemerdekaan. Tentang Chairil Anwar kita pasti bisa mengetahui bahwa dia Angkatan 45, dalam bentuk dan visi. Begitu juga Asrul Sani. Dan Idrus! Meskipun dia tidak mau. Dan Anas Ma’ ruf, meskipun ragu-ragu karena bajunya dan jiwanya masih Pujangga Baru. Rosihan Anwar, Usman Ismail, mereka semua adalah Angkatan 45. Sebagian melihat hasil seninya, yang lain menurut pengalamannya. Yang seorang lebih berhasil dari yang lain dalam keaslian sebagai Angkatan 45, yang seorang lebih tegas dari yang lain.
Para penyair Angkatan 45 membedakan dirinya dalam bentuk dan visi dari angkatan sebelumnya. Namun secara individual masing-masing berbeda karakter. Chairil Anwar anarkis, tetapi Asrul Sani moralis.
· Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan pada tanggal 26 juli 1922. Ia berpendidikan Mulo (SMP) kelas I di Medan dan kemudian pindah ke Mulo Jakarta sampai kelas II. Dia mulai menulis dalam tahun 1943 (permulaan zaman pendudukan Jepang); dan meninggal di RSUP Salemba Jakarta pada tanggal 24 April 1949. Pembaharuan yang dilakukan oleh Chairil Anwar dalam bidang kesajakan kesusastraan Indonesia, baik dalam bentuk maupun dalam isi dapat kita saksikan secara nyata dalam sajaknya yang berjudul “ 1943”.
E. ANGKATAN 66
H. B. Jassin berpendapat bahwa seperti juga Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 45, pun Angkatan 66 tidak sekaligus diterima kehadirannya oleh semua golongan. Meskipun diakui adanya Angkatan 66 dalam masyarakat, sebagian orang meragukan adanya dalam kesusastraan, sebab apakah kriterium kesusastraan yang dapat dipakaikan kepadanya? Maka ramailah polemik dan kontra apakah tulisan H. B. Jassin dalam majalah Horison bulan Agustus 1966, memproklamasikan bangkitnya suatu generasi baru dalam kesusastraan. Akan tetapi, setuju atau tidak setuju orang telah mempermasalahkannya dan pengarang-pengarang angkatan baru ini terus membuktikan adanya dengan karya-karyanya. Tulisan mereka memenuhi majalah-majalah baru Horison, Sastra (lanjutan), Cerpen, Gelanggang Budaya Jaya, dan surat-surat kabar. Pun telah ada karya mereka yang terbit sebagai buku, distensil atau dicetak. Sebuah antologi khusus Angkatan 66 Prosa dan Puisi memperkenalkan hasil-hasil mereka, seperti sekadar riwayat hidup dan keterangan mengenai kegiatannya di lapangan penciptaan. Pujangga Angkatan 66 antara lain: Taufiq Ismail, Bur Rosmanto, dan Mansur Samin. (Jassin, 1968 : 7- 9) antologi: kumpulan pengarang pada periode ini.
· Taufik Ismail
Karya sastra dari Taufik Ismail : Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benten, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit.
· Leon Agusta
Karya sastra dari Leon Agusta : Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1975), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sastra berasal dari kata castra berarti tulisan.Dari makna asalnya dulu,sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia ,seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat, undang-undang dan sebaginya
Teori sastra, yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas hokum-hukum,prinsip dasar,seperti struktur,sifat-sifat,jenis-jenis, serta sistem sastra. Sejarah sastra,yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya hingga perkembangan yang terbaru. Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan periodesasi sejarah sastra indonesia terbagi atas beberapa angkatan :
- Angkatan Balai Pustaka
- Angkatan Pujangga Lama
- Angkatan Pujangga Baru
- Angkatan 1945
- Angkatan 1966
B. SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang sejarah sastra indonesia bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Junus, Andi Muhammad & Junus, Andi Fatimah. 2016. Sejarah Perkembangan Sastra Indonesia. Makassar : Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
https://www.academiaedu.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar