Cerita Fiksi Asal Usul Curug Kaliurip

 

Asal Usul Curug Kaliurip

oleh : Feri Istikhomah

Pada zaman dahulu, hiduplah segerombolan orang yang bertempat tinggal di sebuah tempat. Tempat itu berada di seberang hutan. Seluruh penduduk tempat tersebut tidak pernah melakukan kegiatan lain kecuali bertani berbagai macam bahan makanan. Penduduk tersebut menjual hasil tanamnya sebagai biaya untuk kehidupan mereka. Raden Dimas yang merupakan salah satu penduduk tempat tersebut menjadi panutan para warga karena dialah orang yang dapat menjadi sumber pengetahuan. Tibalah saatnya musim penghujan berganti menjadi musim kemarau.

“Den Dimas, bagaimana ini? Sudah hampir setengah tahun kami tidak mendapatkan air karena hujan tak kunjung datang.” Ucap salah seorang warga.

“Pak Joko, apakah kau lupa? Ini sudah waktunya musim kemarau. Pantas saja tidak turun hujan.” Jawab Raden.

“Benar Den, lantas kita harus bagaimana? Para warga sudah risau mengenai hal ini. Mereka khawatir kekeringan ini akan merusak hasil panen.”

“Apakah sumur-sumur di tengah hutan sudah kering?” Tanya Raden yang sedang memberi makan kuda peliharaannya.

“Belum terlalu kering, Den. Namun warga bingung bagaimana apabila sampai sumur-sumur kering, nantinya tanaman mereka akan mati.”

Setelah mendengar curahan hati Pak Joko, Raden Dimas merenung dan memikirkan bagaimana jalan keluarnya. Ia menemui kuda-kuda yang lain. Ia mencoba menceritakan hal tersebut kepada kuda-kudanya.

“Jono, apakah kau punya saran untuk masalah warga?” tanya Raden.

“Memang apa yang terjadi, Raden?” Kuda yang diberi nama Jono tersebut berbalik tanya.

“Para warga sebentar lagi akan kehabisan air, karena sudah lama tidak turun hujan.”

Kuda-kuda lain yang mendengarnya ikut merasa kebingungan. Mereka berpikir keras untuk membantu menemukan jalan supaya para warga mendapatkan air. Setelah satu minggu kemudian, kuda-kuda peliharaan Raden Dimas pergi ke hutan. Mereka ke hutan untuk menghirup udara segar. Kuda-kuda itu berkeliling menyusuri hutan. Sesampainya di tengah hutan mereka melihat tebing batu yang cukup curam yang di bawahnya berupa permukaan batu keras berbentuk cekung.

Beberapa saat kemudian, kuda-kuda kembali ke kandang di rumah Raden Dimas. Pada malam hari di saat kuda-kuda tidur, Jono bermimpi bertemu sosok laki-laki yang memberitahunya  bahwa pada cekungan batu di bawah tebing dulunya merupakan tempat penampungan air. Namun karena warga terdahulu, yaitu sebelum generasi Raden Dimas menempati tempat tersebut, mereka memiliki kebiasaan buruk. Setiap harinya para warga hanya berjudi di tempat bebatuan tersebut yang tidak banyak orang luar mengetahuinya. Mereka adalah orang yang pemalas, sehingga istri-istri mereka memberontak dan pergi meninggalkan suaminya. Akibat kejadian tersebut, air yang mengalir dari atas tebing dan tertampung di bawahnya hari ke hari semakin berkurang dan akhirnya kering bertahun-tahun.

Pagi harinya Raden Dimas mendatangi kandang kudanya. Jono menceritakan mimpinya kepada Raden Dimas. Awalnya Raden Dimas tidak menghiraukan ceritanya, namun setelah beberapa waktu Raden Dimas memikirkan cerita Jono.

“Den Dimas, aku ingin mengatakan sesuatu”

“Ada apa, Jon?”

“Semalam aku bermimpi, Den.” (dengan terlihat ragu-ragu)

“Mimpi seperti apa?” tanya Raden.

“Aku bermimpi, di mimpiku itu aku bertemu seorang laki-laki tua. Ia memberitahuku tentang bebatuan besar yang ada ditengah hutan sana. Ternyata dulunya tempat itu merupakan tempat penampungan air yang mengalir dari atas. Namun sekarang tidak dapat menampung air lagi karena suatu kejadian buruk yang ada di tempat tersebut.” jelas Jono.

“Lalu, apakah supaya air itu dapat ditampung kembali, haruskah kita menunggu musim penghujan tiba? Dugaanku musim penghujan tiba masih lama.”

“Sepertinya memang masih lama, Den. Namun dari mimpi yang aku dapatkan pasti ada jalan keluarnya selain menunggu musim penghujan.”

“Iya, Jon. Tapi bagaimana?” Tanya Raden.

“Bagaimana kalau sekarang kita ke tempat itu, Den. Siapa tahu ada petunjuk.”

“Apakah kau yakin?” Tanya Raden

“Kurang yakin, Den.” Jawab Jono

“Ah, kau ini.”

(Jono tersipu malu)

Beberapa saat kemudian, Raden berubah pikiran. Ia mengajak Jono untuk pergi ke tengah hutan mengunjungi tempat yang menjadi pikirannya.

“Jon, ayo ikut aku.”

“Kemana, Den?” (Jono kebingungan)

“Kalau kau penasaran, ikut saja.”

“Baik lah, Den.”

Setelah beberapa langkah berjalan….

            “Den, kemanakah kita sebenarnya?”

            “Kita ke tempat yang kau maksud itu, Jon. Barang kali kau benar, kalau kita kesana kita mendapatkan petunjuk.” Jelas Raden.

Sesampainya mereka di tempat tersebut, mereka melihat sekeliling dan mencoba untuk mencari sesuatu. Namun, mereka tidak mendapatkan  apa-apa. Raden pun mengajak Jono untuk pulang karena sudah merasa lelah. Pada malam hari, Raden bermimpi bertemu seorang kakek tua yang pernah hadir di mimpi Jono. Kakek tersebut memberitahu Raden mengenai masalah kekeringan air. Di dalam mimpi tersebut, kakek tua menjelaskan bahwa untuk mendapatkan air kembali dari tempat yang berada di tengah hutan, para warga harus bekerja lebih giat lagi. Para warga harus datang ke bebatuan atas dan mencangkul pasir yang ada di dasar supaya air dari dalam dapat keluar dan mengalir ke bawah.

Pagi harinya Raden menemui Jono di kandang.

“Jon, Jon.” (Memanggil dengan rasa terburu-buru ingin segera bercerita)

“Ada apa, Den Dimas?” tanya Jono.

“Semalam aku bermimpi, aku bertemu dengan kakek tua.”

“Apa, Den? Kakek tua? Apakah kakek itu kakek yang menemuiku dalam mimpi itu juga, Den?”

“Mana ku tahu. Tapi sepertinya iya, Jon.”

“Wah, berarti ada petunjuk, Den.”

“Tapi aku tidak yakin petunjuk itu benar  atau hanya sekedar mimpi.”

“Bagaimana kalau kita coba saja, Den?”

“Tidak, Jon. Takutnya nanti sia-sia.”

Setelah menceritakan hal tersebut, Raden pergi dan menyendiri. Ia bingung akan mimpi yang dialaminya. Malam hari telah tiba. Raden yang awalnya kesulitan untuk tidur akhirnya dapat tertidur lelap. Kakek tua mendatangi Raden dalam mimpinya untuk yang kedua kali. Ia meyakinkan dan menjelaskan kembali seperti yang ada dalam mimpi pertama.

Pagi harinya, Raden mendatangi kandang Joni kembali seperti biasa. Ia menceritakan mimpi yang kedua tersebut kepada Jono dan kuda lainnnya. Ternyata semua kuda peliharaan Raden Dimas juga mengalami mimpi yang sama.

“Jon, hmmm, aku punya kabar berita.”

“Aku juga punya kabar, Den. Kali ini sepertinya harus dilakukan.” (jawab Jono)

“Memang apa yang mau kau beritahukan padaku, Jon?”

“Aku dan kawan-kawan (kuda lainnya) bermimpi tentang yang kemarin kau ceritakan, Den.”

“Benarkah? Wah, berarti ini memang harus dilakukan, Jon. Aku juga bermimpi yang sama seperti kemarin.” jelas Raden.

“sekarang juga kita harus membicarakan ini kepada warga, Den.”

“Kau benar. Mari kita pergi.”

Raden dan kuda-kudanya bergegas untuk menemui para warga. Raden menceritakan semua yang ada di mimpinya. Jono pun meyakinkan warga mengenai hal tersebut yang juga dialaminya dan kuda lain. Para warga percaya terhadap cerita Raden dan kuda-kudanya. Akhirnya warga melakukan sesuai cerita Raden. Hari demi hari warga mengeruk pasir dan bekerja dengan giat. Setelah satu bulan lamanya, akhirnya air perlahan-lahan keluar dari permukaan. Air semakin mengalir deras dan turun ke bawah batuan. Warga pun senang melihat hal tersebut. Semua warga berterima kasih pada Raden Dimas dan kuda-kudanya. Raden memiliki inisiatif untuk memberi nama air yang terjun dari atas. Raden memberi nama air terjun tersebut dengan nama “Curug Kaliurip” yang artinya Air yang terjun dari sungai yang hidup.

Berdasarkan cerita di atas, pesan yang disampaikan pada pembaca yaitu bekerjalah dengan lebih giat dan jangan berbuat hal yang buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar